Tangerang—Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) menggelar Uji Kompetensi (Ujikom) Mahasiswa PEPI Tahun 2025 sebagai upaya strategis untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, dan siap bersaing di dunia kerja. Kegiatan ini dilaksanakan oleh PEPI bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Kementerian Pertanian. Sebanyak 126 mahasiswa tingkat III dari tiga program studi—Teknologi Mekanisasi Pertanian (TMP), Teknologi Hasil Pertanian (THP), dan Tata Air Pertanian (TAP)—mengikuti uji kompetensi ini, yang dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 2–5 Juli 2025 dan gelombang kedua dijadwalkan pada 9–12 Juli 2025, dengan skema uji meliputi teknisi perawatan alsintan prapanen, teknisi perawatan alsintan panen-pascapanen, dan pembudidaya tanaman hidroponik.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus swasembada pangan tanpa impor, sebuah tantangan besar bagi Kementan karena menyangkut sektor pertanian.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memperkuat pernyataan tersebut. Ia menyebut mahasiswa sebagai pahlawan pangan dan garda terdepan dalam mencapai swasembada.
Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti menekankan peran penting SDM. Mahasiwa adalah ujung tombak pembangunan pertanian di lapangan. “Perannya sangat signifikan untuk pertanian berkelanjutan,” ujar Santi.
Sertifikasi dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian sekaligus Ketua LSP Pertanian Kementan, Inneke Kusumawaty, pada Kamis (3/7/2025). Inneke menegaskan pentingnya standarisasi kompetensi sesame Mahasiwa. “Sertifikasi diperlukan karena mahasiswa adalah penggerak utama dalam pengembangan sektor pertanian,” ujarnya.
Sertifikasi ini juga berdampak langsung pada peningkatan kapasitas mahasiswa dalam memotivasi petani dan mendorong produktivitas pertanian. Karena itu, Kementan terus mendorong peningkatan kompetensi mahasiswa melalui sertifikasi sebagai bentuk pengakuan resmi
Dalam sambutannya, Direktur PEPI, Muharfiza menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan vokasi. “Melalui uji kompetensi ini, kami ingin memastikan bahwa lulusan PEPI tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang terverifikasi secara resmi melalui sertifikasi. Ini adalah bagian dari komitmen PEPI dalam mendukung modernisasi pertanian dan mencetak SDM yang mampu menjawab tantangan zaman,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa lulusan bersertifikat akan lebih siap memasuki dunia kerja serta mampu berkontribusi langsung dalam pembangunan pertanian berbasis teknologi.
Ketua Panitia Ujikom 2025, Irwanto, menyampaikan bahwa persiapan telah dilakukan secara matang sejak jauh hari. Tim panitia telah menyiapkan seluruh dokumen asesmen seperti APL-01 dan APL-02, mengecek kesiapan alat praktik seperti traktor, combine harvester, dan instalasi hidroponik, serta mengatur logistik dan perlengkapan mahasiswa. “Kegiatan asesmen dilakukan oleh Dr. Ir. Sigit Tri Wahyudi, M.S, Dedy Wahyudi, S.T., M.M, Drs. Agus Wardjojo, M.M, Ir. Iskandar Zulkarnain dan Dr. Ir. Teddy Rachmat, M.Si yang semuanya tergabung dalam tim asesor dari LSP Kementerian Pertanian dan ditugaskan melalui Surat Penugasan Nomor 460/LSP-P/06/2025” ujarnya.
Selama pelaksanaan, peserta mengikuti asesmen teori, praktik lapangan, dan simulasi kasus teknis yang menuntut ketelitian, keterampilan, serta kemampuan analitis, dengan tantangan seperti perbaikan data peserta dan keterbatasan alat cetak sertifikat berhasil diatasi melalui koordinasi tim yang solid. Kegiatan ini mencerminkan komitmen institusi terhadap pendidikan vokasi berbasis praktik nyata dan sertifikasi, dengan harapan seluruh peserta lulus uji kompetensi dan memperoleh sertifikat nasional sebagai bukti keahlian di bidang pertanian, serta mampu menjadi tenaga teknis unggulan yang mendorong transformasi pertanian menuju arah yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.(*)
![]()