KUALA KAPUAS –Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang merupakan lembaga pendidikan vokasi di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) mengirimkan sebanyak 97 mahsiswanya untuk menjalani praktik lapangan di lahan gambut Dadahup, Kabupaten Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah.
Kegiatan ini bertujuan mengasah kemampuan teknis, berpikir kritis, dan inovatif para calon enjinir pertanian dalam menghadapi tantangan nyata di lahan pertanian ekstrem, sekaligus mendukung program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional pada awal Oktober 2025.
Sesuai arahan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan ia menegaskan bahwa Kementerian Pertanian mendorong perguruan tinggi vokasi seperti Polbangtan dan PEPI untuk berperan aktif dalam kegiatan pendampingan teknologi, perbaikan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pelatihan berbasis masalah langsung di lokasi-lokasi strategis, termasuk di kawasan food estate Dadahup.
“Mahasiswa tidak cukup hanya belajar di ruang kelas. Mereka harus terjun langsung, menjadi inovator dan agen perubahan di desa-desa. Itu bagian dari visi besar kita menuju swasembada pangan yang berkelanjutan,” ujar Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.
Senada dengan hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti juga menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam praktik lapangan yang nyata sebagai bentuk implementasi pendidikan vokasi berbasis pengalaman langsung.
“Kami ingin lulusan vokasi pertanian siap pakai dan mampu menjawab tantangan di lapangan. Kegiatan seperti ini menjadi sarana penting untuk melatih keterampilan teknis sekaligus membangun jiwa kepemimpinan dan kepedulian terhadap petani,” ujar Arsanti
Harmanto direktur PEPI mengatakan fenomena ini menegaskan betapa pentingnya peran para enjinir pertanian di garda terdepan program swasembada pangan. Mahasiswa PEPI tak sekadar menjadi operator alat, melainkan inovator lapangan yang mampu menciptakan solusi teknis di tengah keterbatasan infrastruktur dan medan kerja yang tidak ramah.
Kehadiran mereka juga membuka ruang kolaborasi yang lebih erat antara institusi pendidikan, petani, dan pemerintah dalam mengembangkan kawasan food estate Dadahup secara berkelanjutan.
Harmanto juga menambahkan bahwa Blok A5, yang dikenal sebagai “etalase” food estate Dadahup karena letaknya yang strategis di tepi jalan utama, justru menyimpan tantangan tersulit. Kontur tanahnya yang lunak dan berlumpur dalam sering membuat alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor roda dua (TR2), amblas dan tidak bisa bergerak.Namun, para mahasiswa tidak tinggal diam. Bersama para pendamping dan petani lokal, mereka melakukan inovasi teknis: memodifikasi traktor dengan tiga lapis roda sangkar (cage wheel) yang dirakit menjadi satu kesatuan.
Tidak hanya mengolah lahan, para mahasiswa PEPI juga menjadi semacam bengkel berjalan bagi masyarakat sekitar. Di sela-sela kegiatan praktik, mereka membantu petani memperbaiki berbagai kerusakan alsintan, mulai dari mesin potong rumput hingga TR2 yang mati total akibat terendam air.
Hal yang sama di katakan oleh Athoillah, dosen PEPI yang ikut mendampingi kegiatan praktik lapangan tersebut, analisisnya sederhana permukaan tapak roda harus diperluas agar tekanan terhadap tanah berkurang. Dengan tiga roda sangkar, daya apung dan traksi di medan lumpur menjadi jauh lebih baik, ucapnya.
Meski efektif, modifikasi ini menambah beban pada mesin. Oleh karena itu, sambungan baut harus rutin dicek, dan sebagai langkah keselamatan, mahasiswa menerapkan sistem helper. Beberapa orang berjalan di depan traktor sambil memetakan jalur aman menggunakan tongkat kayu tambahnya lagi.
Jika sudah sesuai, Anda bisa lanjutkan ke berita ketiga dengan pendekatan human interest, seperti dampak sosial kehadiran mahasiswa bagi warga sekitar, kisah inspiratif mahasiswa, atau dinamika kehidupan di lokasi praktik.
Warga berharap kami bisa bantu memperbaiki TR2 mereka. Ini menjadi kesempatan belajar yang luar biasa karena langsung menghubungkan teori perbengkelan dari kelas dengan kondisi nyata di lapangan, tambahnya lagi.(*)
![]()