BPPSDMP KEMENTAN BANGUN POLITEKNIK ENJINIRING PERTANIAN INDONESIA (PEPI)

Mengawali peletakan batu pertama oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang didampingi Kabalitbangtan Fadjry Djufry dan Kabadan PPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi dan Kapusdik PPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti, untuk pembanguunan Politeknik Enjineering Pertanian Indonesia (PEPI) yang dibangun PPSDM Kementan sebentar lagi akan terwujud. seiring keinginan Impian Indonesia untuk bisa menciptakan sumberdaya manusia (SDM) yang handal dalam teknologi pertanian kedepan.

PEPI menjadi bagian dalam modernisasi pertanian dan tidak bisa terpisahkan. “Ada dua faktor penentu menuju modernisasi pertanian adalah infrasturktur dan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Demikian disampaikan Mentan Amran saat acara peletakan batu pertama untuk pembangunan sekolah Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) di Balai Besar Pelatihan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat pagi (4/10/2019).

Mentan Amran Sulaiman juga mengapresiasi adanya PEPI, Untuk infrastruktur, sudah kami sediakan bahkan yang rusak-rusak sudah kami perbaiki. Sedangkan untuk menciptakan SDM yang handal yakni dengan dua cara, yakni pelatihan dan pendidikan. Diharapkan lulusannya mampu menguasai teknologi pertanian karena dengan teknologi kita mampu bersaing dengan negara lain.” kata Mentan Amran.
 
Untuk diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) mempunyai 10 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) yang tersebar di seluruh Indonesia. PEPI menjadi satu-satunya Politeknik yang mengkhususkan diri pada teknologi pertanian.

Mentan Amran juga mengatakan, Teknologi di pertanian, yang paling menonjol saat ini adalah mekanisasinya. Amran mengatakan bahwa level mekanisasi Indonesia dari tahun 2013 hingga 2019 mengalami peningkatan. Di tahun 2013, level mekanisasi hanya 0,04 hours power per hektar. Lalu tahun selanjutnya meningkat dan di tahun 2019 levelnya menjadi 2,15 hours power perhektar. “Mengapa mengalami peningkatan? Ya karena dengan mekanisasi, dapat mengurangi biaya produksi hingga 60 persen,’ terang Amran.

Mentan Amran juga menjelaskan, saat ini jumlah mahasiswa dan mahasiswi yang diterima di PEPI ada 72 orang. Dengan program studi ada 3, yaitu: Program Studi Mekanisasi Pertanian, Program Studi Tata Air Pertanian dan Program Studi Teknologi Hasil Pertanian. “Saya inginnya lulusan PEPI bukan hanya sebatas operator saja, melainkan mereka (para lulusan PEPI nantinya) dapat memproduksi alat-alat dan mesin pertanian. Jadi nanti 100 persen dihasilkan oleh mahasiswa/I PEPI,” jelas Amran.

Pada acara yang sama Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi menambahkan,pihaknya bertekad menciptakan PEPI sebagai universitas kelas dunia. Jadi yang dihasilkan adalah para SDM yang terampil dan kompeten di bidang mekanisasi pertanian, sehingga dapat mendorong generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.

Menurut Dedi,saya inginkan PEPI ini menjadi World Class University dan menjadi rujukan di dunia internasional, khususnya negara-negara di Asia. Jadi tidak heran materi pembelajarannya didominasi praktek langsung di lapangan (70 persen praktek lapangan, 30 persen materi),” tutur Dedi.

Lebih jauh Dedi mengatakan, pendirian Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang bersinergi dengan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian ini untuk memperkuat pendidikan serta pelatihan vokasi guna melahirkan sumber daya manusia terampil yang siap memasuki dunia kerja. “Selain itu agar mampu menumbuhkan lebih banyak lagi wirausahawan muda. PEPI ini juga untuk menumbuhkembangkan petani milenial dalam mensukseskan Program Pembangunan Pertanian Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045.

 28 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Perlu Bantuan?
Hallo
Ada yang bisa Kami Bantu?