TANGERANG – Sebanyak 15 Teknis Operator Alat Mesin Pertanian ikuti pelatihan Program iCARE (Integrated Contemporary Agricultural Reporting and Enhancement) Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung yang diselenggarakan selama empat hari mulai tanggal 24 s.d 27 27 November 2025 bertempat di Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia, Senin (24/11/2025).
Peserta berasal dari kabupaten/kota Provinisi Lampung diantaranya Lampung Selatan, Lampung Utara, Mesuji, dan Tulang bawang Barat. Pelaksanaan pelatihan tersebut akan menghadirkan pemateri berkompeten yang membahas berbagai topik penting mulai dari K3, teknologi budidaya tanaman pangan, hingga pengenalan alat dan mesin pertanian seperti TR4, Combine Harvester, TR2, dan Rice Transplanter .
Program Kementerian Pertanian (Kementan) yang memadukan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan sistem pemantauan digital berbasis teknologi informasi.
Hal yang senada juga disampaikan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengungkapkan kebanggaannya terhadap kemajuan teknologi alat mesin pertanian (alsintan).
Lebih lanjut, Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa arah kebijakan Kementerian Pertanian Tahun 2025 menitikberatkan pada peningkatan produktivitas, pemberdayaan petani, dan pembangunan infrastruktur pertanian. Mekanisasi pertanian melalui alsintan menjadi solusi strategis dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, kelangkaan tenaga kerja tani, dan tuntutan ketahanan pangan nasional.
“Alsintan bukan hanya alat bantu, tetapi simbol modernisasi dan efisiensi. Mekanisasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pangan di masa depan,” tambahnya.
Menurutnya pelatihan ini mencakup dua aspek penting, yaitu pengetahuan teknis pengoperasian dan perawatan alsintan, serta manajemen UPJA agar pengelolaan alat bantuan dari pemerintah dapat lebih optimal, berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Selain itu, pelatihan ini juga mendukung penuh program swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden RI. Lampung menjadi salah satu provinsi yang diprioritaskan dalam program tersebut, dan peran UPJA menjadi sangat strategis dalam menggerakkan modernisasi pertanian di tingkat akar rumput.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyebutkan, untuk mencapai target swasembada pangan kita insan pertanian harus selalu berkoordinasi dan bersinergi dengan baik. Peran aktif dari setiap pihak yang terlibat, memegang peran penting dalam mensukseskan program pertanian modern ini, dalam peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan Indonesia.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) Harmanto, menegaskan bahwa kemajuan adalah suatu kepastian, sehingga seluruh SDM pertanian dituntut untuk terus berkembang.
“Pelatihan ini berfokus pada penguatan Manajemen UPJA mengenai dasar-dasar Alsintan, unsur manajemen usaha, dan strategi penyewaan. Dalam pelatihan dipaparkan mengenai pentingnya pengoperasian mesin Alsintan, penyelesaian masalah, kendala, hingga pentingnya perawatan mesin secara berkala. Kegiatan pelatihan disempurnakan dengan praktik langsung penggunaan alat, perbaikan dan perawatan Alsintan, Tegas Harmanto
Dosen PEPI, selaku pemateri berkomitmen untuk terus mendampingi dan memfasilitasi kelembagaan petani dalam mengoptimalkan pemanfaatan teknologi pertanian modern. Langkah strategis ini menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya UPJA yang mandiri, profesional, dan berdaya saing, sekaligus secara nyata mendukung pencapaian swasembada pangan berkelanjutan
Program iCARE juga mendorong transparansi dan akuntabilitas melalui sistem digital yang memungkinkan pemantauan distribusi serta operasional alsintan secara terbuka dan terukur. Dengan penggunaan alsintan yang optimal, proses budidaya dapat berlangsung lebih cepat dan efisien, sehingga meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat modernisasi menuju pertanian cerdas ( smart farming ).
![]()