KALIMANTAN TENGAH – Bukti nyata bahwa pendidikan vokasi pertanian mampu mencetak sumber daya manusia unggul yang siap mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia di masa depan. Sebanyak 97 mahasiswa dari Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) melaksanakan praktik lapangan di kawasan Dadahub, Kalimantan Tengah, sebagai bagian dari program pembelajaran vokasi dengan komposisi 90% praktik dan 10% teori. Kegiatan ini melibatkan dua program studi, yakni Teknologi Mekanisasi Pertanian (TMP) dan Tata Air Pertanian (TAP), yang bertujuan memberikan pengalaman nyata dan keterampilan teknis langsung di lapangan.
Praktik lapangan yang berlangsung sejak pertengahan September hingga 30 Oktober 2025 ini didampingi oleh enam dosen, dua tenaga PLP, serta Brigade Pangan (BP) sebagai mentor teknis di lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan bekal ilmu dan keterampilan, tetapi juga turut berkontribusi dalam mendukung kemajuan pertanian nasional.
Program ini merupakan implementasi dari arahan Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman yang mengatakan sebagai bagian dari revitalisasi pengembangan 1 juta hektar lahan rawa melalui Program OPLAH (Optimalisasi Lahan Rawa). Program ini juga mencakup pembentukan Brigade Pangan (BP) serta didukung dengan bantuan penuh dari Kementerian Pertanian berupa alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, dan pembinaan teknis guna mendukung percepatan swasembada pangan nasional.
Senada dengan arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa kegiatan ini turut mendukung pencapaian target Indeks Pertanaman (IP) 300, yaitu penanaman padi tiga kali dalam setahun. Ia menegaskan bahwa praktik mahasiswa membuktikan bahwa pendidikan vokasi pertanian mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap berkontribusi dalam mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Harmanto selaku Direktur PEPI mengatakan bahwa Lokasi dadahub dipilih karena memiliki karakteristik lahan rawa seluas sekitar 30 hektar, lengkap dengan sistem irigasi primer yang memanfaatkan long storage buatan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Air dari sungai buatan ini dialirkan ke sawah menggunakan pompa. Setiap plot sawah memiliki luas 1 hektar. Sistem irigasi ini menjadi sarana belajar langsung bagi mahasiswa Prodi TAP, khususnya dalam pengelolaan air, teknik irigasi, dan pengukuran debit melalui Automatic Water Station.
Mahasiswa prodi TMP juga belajar menggunakan alat dan mesin pertanian modern, termasuk Drone T20 untuk penanaman padi, dengan kapasitas 20 kg benih per jam, dan Rice transplanter untuk mempercepat proses tanam di lahan rawa “Penggunaan drone sangat efisien, namun ada tantangan dalam penghitungan kebutuhan benih yang lebih presisi dibandingkan metode manual,” ujar harmanto
Fakta di lapangan menunjukkan perubahan signifikan di wilayah Kalimantan Tengah, dimana kondisi lahan pada musim tanam pertama pun diharapkan dapat dikawal secara intensif oleh mahasiswa untuk memastikan keberhasilannya. Kegiatan praktik ini memberikan manfaat besar bagi para mahasiswa, antara lain memberikan pengalaman langsung di lapangan, meningkatkan keterampilan teknis di bidang mekanisasi dan tata air pertanian, serta membantu petani dalam proses penanaman padi dengan tujuan percepatan dan efisiensi produksi.(*)
![]()