Dukung Swasembada Pangan, Politeknik Enjiniring Kementan Lakukan Integrasi Kurikulum

Tangerang – Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), Kementerian Pertanian (Kementan) terus berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan vokasi pertanian dengan menggelar Perencanaan Perkuliahan Semester Ganjil TA. 2025/2026 Sejak tanggal 8 – 9 September 2025 di aula auditorium PEPI. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antar perguruan tinggi vokasi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam mendukung swasembada pangan.

Kegiatan ini dihadiri 50 orang peserta yang terdiri dari Direktur PEPI, Wakil Direktur I, II, dan III, Dosen Tetap, Dosen Tidak Tetap/Praktisi, Asisten Dosen/Calon Dosen, PLP/Calon PLP, BAAK, dan BAU.

“Sinergi seperti ini adalah langkah strategis untuk menciptakan SDM yang kompeten dan relevan guna mendukung Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto gencar merealisasikan program swasembada pangan yang termasuk prioritas visi misi asta cita.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM pertanian menjadi prioritas.

“Kementerian Pertanian sangat fokus pada penguatan pendidikan vokasi untuk menghasilkan Teknologi Pertanian yang handal, baik secara teknis maupun dalam pengelolaan usaha pertanian. Ini menjadi bagian penting dari strategi pembangunan pertanian ke depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, dalam berbagai kesempatan menekankan peran penting politeknik.

“Pendidikan vokasi pertanian adalah kunci untuk meningkatkan kualitas SDM yang unggul, kompeten, dan siap menghadapi tantangan industri pertanian yang terus berkembang. politeknik harus menjadi garda terdepan dalam mencetak tenaga profesional yang terampil sekaligus berwawasan global,” tegasnya.

Disampaikan juga oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti bahwa sinergi program Kementan ditujukan untuk mencapai swasembada pangan, termasuk dengan fokus pada kerjasama dengan DUDIKA dalam hal implementasi Teaching Factory (Tefa) yang sudah berjalan dengan baik, namun perlu optimalisasi lebih lanjut agar benar-benar terintegrasi dalam budaya belajar. Ia menekankan bahwa mindset adalah kunci utama keberhasilan pendidikan vokasi.

Menurut Kepala Badan PPSDMP Idha Widi Arsanti Pendidikan Vokasi, Tefa dan project-based learning bukan sekadar metode, tetapi harus menjadi filosofi pembelajaran yang membentuk lulusan agar tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap belajar ulang, beradaptasi, dan berinovasi. Ia menambahkan bahwa tujuan Tefa bukan hanya mencetak pekerja, melainkan membangun manusia Indonesia yang berkarakter, mandiri, sehat jasmani rohani, mampu berpikir kritis, dan berkolaborasi dalam berbagai situasi.

Hal senada juga disampaikan Direktur PEPI, Muharfiza dalam sambutannya menyatakan bahwa diharapkan peran dosen vokasi harus bergeser dari sekadar pengajar menjadi arsitek pembelajaran. Hal ini berarti dosen harus mampu merancang pengalaman belajar yang kontekstual dan berdampak, mempertemukan mahasiswa dengan dunia nyata melalui proyek riil, interaksi dengan industri, serta inovasi yang relevan dengan tantangan masa kini.

“Dosen vokasi tidak cukup hanya menjadi pengajar di kelas. Dosen harus mampu menjadi arsitek pembelajaran yang merancang pengalaman belajar kontekstual, mempertemukan mahasiswa dengan dunia nyata melalui proyek-proyek riil, interaksi industri, dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Muharfiza.

“Dalam pelaksanaan perkuliahan, dosen menyusun Satuan Acara Perkuliahan (SAP) berpedoman pada RPS mata kuliah. Melalui pengembangan dan pelaksanaan kurikulum yang demikian, diharapkan kompetensi dalam standar kompetensi kelulusan dapat tercapai,” tambah Muharfiza.

Wakil Direktur I PEPI, Andi Saryoko juga dalam sambutannya mengatakan PEPI berupaya mencapai visi dan misi untuk menyelenggarakan proses pembelajaran dengan manajemen pendidikan yang baik dan berkualitas.

“Salah satu ciri penyelenggaraaan pendidikan berkualitas, adanya proses perencanaan dalam setiap kegiatan pembelajaran yang baik dan berkualitas, akan lebih terjamin hasilnya apabila direncanakan secara baik dan terukur,” kata Andy Saryoko.

“Kurikulum dimaknai sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, proses, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan program studi,” katanya lagi.

Selanjutnya, kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan menjadi Rencana Pembelajaran Semester [RPS]. Dalam pelaksanaan perkuliahan, dosen menyusun Satuan Acara Perkuliahan [SAP] berpedoman pada RPS mata kuliah, melalui pengembangan dan pelaksanaan kurikulum yang demikian, diharapkan kompetensi dalam standar kompetensi kelulusan dapat tercapai.

“Bagian Administrasi dan Akademik Kemahasiswaan berserta jajarannya, harus mendukung kesiapannya dalam pelayanan administrasi akademik, administrasi dosen, dan kerjasama dengan berbagai pihak,” katanya.

Dalam kegiatan perencanaan perkuliahan, dosen, BAAK dan BAU harus bersama-sama merumuskan perencanaan penyelenggaran perkuliahan Semester Ganjil TA 2023/2024 di PEPI.(*)

Loading

Translate »
Open chat
Perlu Bantuan?
Selamat Datang di website PEPI.
Ada yang bisa Kami Bantu?
Skip to content