Siapkan Tenaga Kompeten, Politeknik Enjiniring Kementan Kukuhkan BP Kabupaten Pidie Jaya

PIDIE JAYA – Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan dibawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), turut berupaya mewujudkan percepatan pembangunan pertanian perdesaan yang berkualitas dengan mendayagunakan sumber daya lokal secara mandiri untuk kebersamaan di bidang pertanian sehingga dipandang perlu dilakukan penguatan kelembagaan untuk kesejahteraan petani dengan membentuk Brigade Pangan (BP).

Pengukuhan lima BP diantaranya BP Sepakat Jaya, BP Petani Muda, BP Muda Tani, BP Bina Tani dan BP Bandar Tani di kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh pada. Kabupaten Pidie Jaya menjadi salah satu wilayah yang melaksanakan program optimalisasi lahan (Oplah) non rawa seluas 1.000 Ha di Aula Dinas Partanian dan Pangan Jumat (29/08/2025).

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menciptakan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menyebutkan bahwa warga binaan yang menjalani bebas bersyarat akan dilibatkan dalam BP, yang merupakan program pertanian modern untuk mendukung program swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dalam tiga tahun ke depan.

“Kita akan memanfaatkan kesempatan ini di BP untuk mengoptimalkan lahan yang ada dan memberdayakan warga binaan bebas bersyarat sehingga mereka bisa memiliki pendapatan langsung dan menciptakan lapangan kerja. Saya rasa ini langkah yang sangat baik,” ujar Mentan Amran.

Mentan Amran juga menegaskan pentingnya dukungan dari seluruh pihak terkait dalam merealisasikan program ini.

“Kami minta para dirjen terkait untuk menindaklanjuti program ini dengan segera, “ tutup Mentan Amran.

Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti menyatakan bahwa BP selama ini telah menjadi solusi penting dalam mengatasi kendala teknis seperti kekurangan tenaga kerja dan keterbatasan alat tanam di lapangan.

“Brigade Pangan adalah inisiatif strategis yang melibatkan tenaga muda pertanian, operator alsintan, petani, dan penyuluh yang bersemangat tinggi mendukung percepatan tanam,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penguasaan teknis alsintan menjadi kunci utama agar potensi alat tersebut dapat dimaksimalkan, sehingga pelatihan ini fokus pada peningkatan kompetensi SDM BP.

Dengan pelatihan ini, diharapkan BP semakin solid dan terampil, serta mampu menjadi motor penggerak transformasi pertanian menuju pertanian maju, mandiri, dan modern.

BPPSDMP berkomitmen mendukung kemajuan pertanian Indonesia melalui peningkatan kompetensi tenaga pertanian.

Direktur Politeknik Enjinring Pertanian Indonesia (PEPI), Muharfiza, menyatakan bawa Brigade Pangan (BP) merupakan kelembagaan usaha pertanian yang beranggotakan petani muda. Tujuan utama pembentukan BP adalah menjadi wadah bagi petani muda untuk bersinergi dalam pengelolaan usaha tani. Dengan adanya kelembagaan petani milenial, diharapkan dapat menjadi instrumen strategis dalam mendorong keberhasilan program swasembada pangan

Tahap awal pembentukkan BP adalah dengan terlebih dahulu menentukan Calon Mitra BP. Brigade Pangan merupakan kelompoktani baru yang nantinya akan bergabung sebagai menjadi bagian dari anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Dengan demikian, hubungan antara BP dengan Kelompok Tani (Poktan) dalam Gapoktan akan terjalin yang sama adalah sebagai mitra.

“Dalam mengelola usaha tani secara terstruktur dan terintegrasi dalam BP dengan dukungan infrastruktur berupa tata lahan dan tata air, dan memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas, indeks pertanaman, efisiensi produksi, hilirisasi dan keberlanjutan usaha tani dan mewujudkan agribisnis pertanian modern melalui pengembangan BP dengan melibatkan pemuda guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” tegas Muharfiza.

Brigade Pangan terdiri dari 15 orang yang mengelola lahan seluas 200 hektare. Kementerian Pertanian akan melengkapi kebutuhan BP dengan bantuan alat mesin pertanian (alsintan), bibit, pupuk, dan obat-obatan senilai Rp3 miliar.

Skema pembagian hasil pertanian ini menguntungkan semua pihak, dengan komposisi 70 persen untuk BP yang mengerjakan dan 30 persen untuk pemilik lahan. Selain itu, pemanfaatan alsintan dan teknologi modern diyakini mampu meningkatkan produksi sekaligus menekan biaya hingga 50 persen.(*)

Loading

Translate »
Open chat
Perlu Bantuan?
Selamat Datang di website PEPI.
Ada yang bisa Kami Bantu?
Skip to content