Wujudkan Pertanian Modern, Kementan Bekali Mahasiswa Petakan Lahan dengan Drone

SERPONG – Kementerian Pertanian, melalui Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), fokus pada kurikulum dibidang enjiniring pertanian.

Berbagai upaya dilakukan PEPI untuk mendukung program Kementan dalam mencetak tenaga ahli yang siap mewujudkan pertanian modern dimasa mendatang.

Penguatan kurikulum dilakukan PEPI dengan penerapan konsep pembelajaran yang didominasi oleh 70% praktik dan 30% teori yang diharapkan mampu menghasilkan mahasiswa sebagai teknisi alat mesin pertanian yang terampil.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menilai penguatan pendidikan vokasi melalui penguatan kurikulum dilakukan sebagai langkah dalam penguatan kompetensi diri generasi muda untuk bergelut pada teknologi.

“Penguatan kompetensi diri generasi muda adalah hal yang mutlak, dan sektor pertanian merupakan bidang yang memiliki celah untuk pengembangan produktif tersebut,” ujar Mentan SYL.

Mentan memaparkan pembabakan fase, dimana pertanian kini bersiap memasuki gerbang digitalisasi industri 4.0 dan sedikit demi sedikit telah meninggalkan pola-pola lama yang dilakukan oleh para petani sebelumnya dan hal tersebut merupakan peluang berkreasi.

“Pertanian dulu menghadirkan cangkul, itu industri babak pertama, dan ada traktor dan hand traktor, di era industri kedua. Era ketiga ada teknologi informasi dan elektronik yang diterapkan pada sistem produksi, dan sekarang masuk industri 4.0, pemuda Indonesia harus masuk kesitu” tegas Mentan Syahrul.

Terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pembangan Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menilai pengembangan pendidikan vokasi menjadi kunci. Sebab lewat pendidikan vokasi ini bisa banyak lahir petani milenial.

Dedi mengatakan, petani milenial produk vokasi harus mampu masuk dunia usaha dan industri. Makanya, sistem vokasi harus selaras dengan dunia usaha dan industri, termasuk dalam kurikulum, proses belajar mengajar.

“Vokasi harus mengetahui apa yang dibutuhkan dunia usaha dan industri. Dalam pendidikan vokasi 30% di kelas, 70% di teaching factory dan magang di dunia industri. Mereka melakukan praktik langsung di lapangan. Harus mengenal baik dunia industri dan usaha sebelum terjun ke dunia itu,” katanya.

Rahmat Anasiru sebagai Kaprodi Tata Air Pertanian PEPI, mengungkapkan kegiatan pemetaan lahan yang dilakukan menggunakan drone ini adalah untuk memetakan lahan.

“Dimana Drone ini sebagai teknologi canggih untuk survey kondisi lahan yang meliputi pengambilan gambar secara otomatis dengan menggunakan sensor dan kamera, dan penggunaan GPS untuk menentukan titik titik pengambilan gambar,” ujarnya.

“Mahasiswa saat ini diajarkan bagaimana teknologi itu berjalan, tidak perlu lagi susah payah dengan teknologi kegiatan pertanian terbukti lebih efisien dilakukan,” tambahnya.

 421 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Open chat
Perlu Bantuan?
Hallo
Ada yang bisa Kami Bantu?