Wamentan Sebut Kehadiran PEPI Tingkatkan Minat Milenial Terjun ke Sektor Pertanian

Berdirinya Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) menuai apresiasi dari Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi. Kehadiran PEPI membuka jalan terbentuknya pendidikan vokasi di bidang teknik dan akan mencetak peserta didik yang kompeten serta terlatih di bidang agro sociopreneur. 
PEPI merupakan pendidikan vokasi pertanian yang ditunggu oleh para petani dan kebutuhan kompetensi dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di bidang pertanian.

Wamentan bersyukur di tengah kesulitan yang tengah melanda Indonesia, PEPI hadir sebagai jawaban menumbuhkan minat kaum milenial untuk terjun di sektor pertanian.

“Seperti harapan kita semua, terutama Pak Presiden yang terus menerus memberi masukan bahwa vokasi memang harus kembali sesuai misinya agar mahasiswa hasil dari pendidikan politeknik ini menjadi tenaga kerja yang terampil dan siap pakai,” ujar Wamentan Harvick Hasnul Qolbi di sela kunjungan kerja di kampus PEPI pada Kamis, 10 Juni 2021. Dalam kunjungan tersebut, Wamentan didampingi oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti, Direktur PEPI Mardison, serta seluruh civitas akademik PEPI.

PEPI merupakan pendidikan vokasi yang dalam misinya bertujuan menyiapkan mahasiswa sebagai tenaga kerja yang terampil di bidang mekanisasi pertanian, mengubah persepsi kaum muda untuk tergerak dari pertanian tradisional menuju pertanian modern. 

“Politeknik merupakan terobosan siap pakai di dunia kerja, meskipun tidak bisa memberikan kepastian minimal ada gambaran masa depan cerah di bidang pertanian. Sebab, mereka memiliki skill yang memang sudah disiapkan menjadi seorang job creator,” kata Wamentan.

Pertanian modern diharapkan dapat menarik minat kaum muda untuk bertani. Pertanian modern memperkenalkan konsep smart farming yang merujuk pada penerapan TIK pada bidang pertanian di mana pertanian tidak lagi pekerjaan yang hanya menggunakan cangkul. 

Tujuan utama penerapan terknologi tersebut adalah untuk melakukan optimasi berupa peningkatan hasil (kualitas dan kuantitas), dan efisiensi penggunaan sumber daya yang ada.
Selain itu untuk menumbuhkan minat kaum muda bertani, Kementerian Pertanian (Kementan) memiliki berbagai program, yaitu Kostratani, Pertanian Masuk Sekolah, Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor, Peningkatan Inovasi Teknologi, Gedor Horti, dan lainnya.

“Kita harus mendukung melalui pendidikan vokasi. Pendidikan vokasi harus mampu mencetak sumber daya manusia (SDM) pertanian yang profesional, mandiri, dan berdaya saing. Kita punya enam Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), satu Politeknik Enjinering Pertanian Indonesia (PEPI), tiga Sekolah Menengah Pembangunan Pertanian (SMKPP) yang mampu melahirkan qualified job seeker dan qualified job creator,” kata Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi.

Seiring laju perkembangan teknologi, pertanian harus mampu beradaptasi agar tidak tertinggal dan bahkan melahirkan SDM pertanian yang berkualitas.

“Kita sudah harus meninggalkan budaya kerja yang lambat. Tantangan dunia pertanian ke depan harus kita sikapi dengan tepat dan cepat. Kita harus fokus untuk melahirkan SDM pertanian mulai dari dosen, widiiswara, mahasiswa, dan alumni yang mampu untuk mengikuti perkembangan teknologi. Saat ini kita sudah masuk dalam era 4.0 di mana dunia ada dalam genggaman,” ujar Dedi.

Begitu pun dalam menjalankan usaha tani. Pemanfaatan alat mekanisasi pertanian dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan jumlah produksi.

“Mahasiswa Polbangtan dan alumni harus menjadi perintis dan penyambung kebijakan pertanian. Tak hanya itu, raih nilai tambah melalui proses pengolahan dan packaging yang baik,” ucap Dedi.

Sementara itu, Direktur PEPI Mardison menjelaskan perguruan tinggi vokasi memiliki keunggulan bertaraf internasional dalam menghasilkan sumber daya manusia pertanian yang profesional, mandiri, dan berdaya saing di bidang enjiniring dan teknologi pertanian. 

“PEPI berupaya menghasilkan lulusan yang terampil sebagai tenaga teknisi, berintegritas dan memiliki jiwa entrepreneur serta berwawasan industri 4.0. Hal tersebut dilakukan dengan meningkatkan kerja sama dengan DUDI di bidang pertanian dan pemangku kepentingan lainnya, di antaranya dengan melakukan pengembangkan kurikulum bersama, melakukan penelitian dan pengembangan bersama produk teknologi pertanian (alat dan mesin pertanian) berupa software dan hardware,” tutur Mardison.

PEPI menjalin kerja sama dengan DUDI dalam hal penempatan kerja magang bagi peserta didik. Hal ini memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

“Kerja sama dengan DUDI dimanfaatkan agar menjadi tempat pelatihan kerja lapangan, magang, dan penelitian dosen serta mahasiswa PEPI sehingga PEPI dapat memberikan masukan akademis terhadap permasalahan DUDI di lapangan. Selain itu, PEPI dapat menyiapkan tenaga kerja siap pakai untuk DUDI, menjadi media promosi produk-produk yang dihasilkan, serta tempat pelatihan pegawai,” ucap Mardison.

 79 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Perlu Bantuan?
Hallo
Ada yang bisa Kami Bantu?