Siap Hadapi Revolusi industri, Mahasiswa PEPI Kenali Combine Harvester

SERPONG – Di era pesatnya kemajuan teknologi saat ini, Indonesia terus berupaya menyiapkan diri menghadapi revolusi industri di semua sektor salah satunya pertanian. Mendukung hal tersebut Kementerian Pertanian (Kemengan) melalui Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian (BPPSDMP) berupaya gencarkan penyelenggaraan pendidikan vokasi pertanian yang diharapkan mampu menghasilkan SDM yang andal dibidang pertanian salah satunya melalui Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI).

PEPI sebagai lembaga pendidikan vokasi dengan fokus keilmuan dibidang enjiniring seperti mengoperasikan, memelihara, dan memperbaiki, menguji kinerja dan memodifikasi alat, mesin, dan fasilitas lainnya. Tentunya bertujuan untuk mencetak lulusan yang andal dalam bidang mekanisasi. Untuk itu Mahasiswa PEPI terus didorong dan dikenalkan pada berbagai alat mesin pertanian salah satunya alat mesin panen canggih combine harvester.

“Mesin panen combine jenis ini dikembangkan di Jepang. Mesin ini hanya mengumpankan bagian malainya saja dari padi yang dipotong ke bagian perontok mesin. Gabah hasil perontokan dapat ditampung pada karung atau tangki penampung gabah sementara”, terang Athoillah selaku dosen Prodi Teknologi Mekanisasi Pertanian.

Lebih lanjut Athoillah menerangkan combine jenis ini tersedia dalam tipe dorong maupun tipe kemudi. “Lebar pemotongan bervariasi dari 60 cm hingga 1,5 meter. Engine yang digunakan bervarias dari 7 hingga 30 hp. Karena jauh lebih berat dari pada binder bagian penggerak majunya dibuat dalam bentuk trak karet (full track rubber belt)”, ujarnya.

Ditambahkannya pengembangan mekanisasi pertanian dalam arti penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) dapat berperan dalam menyediakan tambahan tenaga kerja mekanis, sebagai komplemen terhadap kekurangan tenaga kerja manusia, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mengurangi susut dan mempertahankan mutu hasil.

“Dalam hal ini, mahasiswa mengaku terkesan pada cara kerja mesin panen combine harvester meski tergolong rumit tapi menyenangkan ketika dioperasikan. Di era revolusi industri nantinya mentransformasikan pertanian tradisional ke pertanian modern yang lebih efisien dan efektif, sehingga terjadi perubahan kultur bisnis” tambah Athoillah.

Ia berharap melalui pembelajaran alsin tersebut akan tumbuh minat mahasiswa terhadap pertanian serta melatih kecakapan mahasiswa untuk mahir dalam pemanfaatan teknologi serta maintenance mesin tersebut.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan seluruh pelaksana Pendidikan Pertanian baik di Politeknik lingkup Pertanian maupun di perguruan tinggi lainya mampu menghadirkan SDM petani milenial yang gigih dan memiliki rasa keingintahuan pada perkembangan ilmu pengetahuan. Generasi seperti itu selalu dibutuhkan untuk menjaga persaingan global yang semakin sulit.

“Karakter seorang petani adalah petarung di lapangan. Karena itu negara membutuhkan anak bangsa yang kritis dalam melakukan segala hal. Sipat kritis ini bisa mengukur tingakt kecedasan seseorang,” katanya.

Mentan SYL berharap generasi muda mampu terbiasa dengan sistem digital online dalam melakukan aktivitas kreator di bidang pangan pertanian. “Karena itu pendidikan vokasi harus menjadi jawaban di tengah pandemi covid-19. Terutama bagi anak muda yang diharapkan selalu terbiasa dengan digital. Apalagi pendidikan adalah sebuah proses dan tantangan baru yang harus kita hadapi,” ujar Mentan SYL.

Disisi lain Dedi Nursyamsi selaku kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumberdaya Pertanian (BPPSDMP) juga menyatakan pemberdayaan dan pengembangan SDM pertanian menjadi agenda prioritas Kementan untuk mendongkrak produktivitas. Program itu di nilai lebih penting dibandingkan pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana pertanian serta inovasi teknologi pertanian.

“Memasuki era revolusi industri 4.0, pembangunan SDM pertanian tidak hanya cukup menjadi profesional saja, melainkan diperlukan kemampuan berinovasi serta memanfaatkan berbagai teknologi demi meningkatkan produktivitas pertanian. Siap tidak siap kita harus masuk ke era 4.0 untuk meningkatkan efisiensi dan kecepatan aktivitas kita” ungkap Dedi.

 457 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Perlu Bantuan?
Hallo
Ada yang bisa Kami Bantu?