Regenerasi Petani, Politeknik Enjiniring Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa

TANGERANG – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) terus berupaya mendorong modernisasi alat pertanian untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan mewujudkan kembali swasembada pangan yang pernah diraih pada 2017, 2019, dan 2020.

Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) perkuat kompetensi keahlian Alat Mesin Pertanian (ALSINTAN) mempelajari dan mengoperasikan alat mesin pertanian, perawatan dan peralatan alat mesin pertanian, pemetaan lahan dan pengolahan tanah.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sistem mekanisasi untuk bertransformasi ke pertanian modern dari sistem tradisional.

“Pertanian dalam negeri sulit maju bila tidak diikutkan dengan sistem pertanian modern, yang mana alat dan mesin pertanian (alsintan) di era saat ini sudah semakin modern. Di luar negeri menebar pupuk sudah menggunakan pesawat tanpa awak atau drone,” ujarnya.

Menurut dia, penggunaan teknologi dalam pelaksanaan kegiatan pertanian dinilai sangat efektif dan efisien di era saat ini, oleh karena itu dibutuhkan kontribusi petani milenial hadir dalam mempercepat transformasi tersebut. Bukan berarti pertanian tradisional ditinggalkan begitu saja, masih ada sebagian petani menerapkan metode itu, tetapi hampir mayoritas sudah menggunakan pola mekanisasi.

Menarik minat kalangan pemuda masuk ke sektor pertanian diawali dengan menciptakan sirkulasi keuntungan secara ekonomis, kemudian berproduksi dengan literasi digital teknologi terbaru dengan menyiapkan infrastruktur pendukung, hal ini sedang dilakukan pemerintah untuk menjawab tantangan-tantangan

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi, menambahkan bahwa peran aktif petani muda akan menciptakan ketertarikan kaum muda lain di sektor pertanian.

“Petani muda terus di dorong untuk berperan aktif sehingga dapat mengajak kaum muda lain turut aktif di sektor pertanian,” ujarnya.

Dedi mengungkapkan saat ini dari 33,4 juta jumlah petani aktif di Indonesia, hanya ada 2,7 juta petani yang masuk kategori petani milenial. Artinya 30,4 juta petani yang ada saat ini adalah dalam usia tua yang identik dengan tenaga yang berkurang dan produktivitas yang rendah.

“Mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Pertanian mengarahkan enam Politeknik Pembangunan Pertanian dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia, sebagai lembaga pendidikan vokasi di bawah Kementerian Pertanian untuk mencetak petani pelopor dan penyuluh pertanian yang handal dan adaptif teknologi sebagai penggerak pembangunan pertanian,” kata Dedi dalam keterangan tertulisnya.

Direktur PEPI, Muharfiza dukung program strategis Kementerian Pertanian menjadi perhatian khusus dalam penggunaan teknologi, pendampingan petani melalui penyuluh, mekanisasi pertanian. Dengan terjunnya mahasiswa PEPI dalam kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) yang berlokasi di sentral penyebaran Alat Mesin Pertanian (ALSINTAN).

Nantinya mahasiswa menjadi penggerak pertanian yang modern dan ujung tombak masa depan bangsa yang harus memiliki konsen terhadap sektor pertanian.

“Sebagai langkah nyata, mahasiswa PEPI telah dibekali dengan penggunaan teknologi canggih seperti drone, traktor, combine harvester dan juga mesin pencacah padi yang sudah terintegrasi dengan sistem pengeringan” tegas Muharfiza.

Selain itu, mekanisasi perlu dilakukan untuk memperkuat posisi bonus demografi bagi kalangan muda Indonesia agar mau turun bertani.

“Pada gilirannya petani generasi milenial, generasi Z mau bertani dengan teknologi dan mekanisasi sehingga produksi kita berjalan dengan optimal,” katanya.

 896 total views

Translate »
Accessibility
Open chat
Perlu Bantuan?
Selamat Datang di website PEPI.
Ada yang bisa Kami Bantu?