Dorong “Budidaya Cabe Merah Hemat Air” Politeknik Enjiniring Kementan Kuasai Teknologi Aplikasi Sprinkler dan Drip Irrigation

Serpong- Kementerian Pertanian terus mendorong Pendidikan Vokasi hadirkan teknologi ditengah masyarakat khususnya pedesaan. Salah satunya dilakukan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) yang tengah menerapkan teknologi budidaya hemat air melalui aplikasi irigasi sprinkler maupun irigasi tetes (drip) pada tanaman cabe merah.

Sebagaimana harapan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo agar mahasiswa Polbangtan/PEPI mampu menjadi SDM unggul dalam penguasaan teknologi dan inovasi pertanian berbasis Smart Farming.

“Saya berharap melalui pendidikan di Polbangtan/PEPI dapat menciptakan SDM unggul yang mampu mendukung pembangunan pertanian. Pasalnya, kemajuan pertanian harus didukung generasi milenial dengan semangat inovasi tinggi, melakukan cara-cara baru sebagai ciri yang maju, mandiri, dan modern,” kata Mentan Syahrul.

Harapan serupa dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi tentang betapa pentingnya penerapan Smart Farming. Pertanian saat ini dan ke depan dihadapkan pada tantangan akbar yakni perubahan iklim.

“Menghadapi tantangan perubahan iklim bukan dengan cara klasik, tetapi wajib dengan Smart Farming lantaran perkembangan ke depannya mendorong lahan semakin sempit dan jumlah penduduk bertambah,” kata Dedi.

Menurutnya, Smart Farming memungkinkan petani memiliki peluang kontrol lebih tinggi terhadap proses produksi, melalui pengelolaan pertanaman yang efektif dan efisien. Konsep pembangunan pertanian harus selaras dengan peningkatan rencana intelektual semua stakehokder, terutama petani yang bertindak sebagai garda terdepan.

Direktur PEPI Muharfiza mengatakan PEPI terus berupaya meningkatkan dan mengembangkan lulusannya agar berjiwa profesional, berdaya saing, dan wirausaha. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah dengan penerapan praktik irigasi sprinkle pada tanaman cabai.

“Kami menginginkan mahasiswa PEPI ini dapat menjadi pelopor pengembangan teknologi pertanian di pedesaan, sebab nantinya mahasiswa PEPI ini akan dilepas terjun ke lapangan pada saat pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan sehingga wajib bagi mereka menguasai kemampuan tersebut”ujar Muharfiza.

Harmanto salah satu dosen Tata Air Pertanian memandu praktik perancangan Sprinkler irrigation (irigasi curah) maupun irigasi tetes di lapangan menilai, penerapan Teknik irigasi tersebut dapat meningkatkan ketetapan penggunaan air dan menghasilkan keseragaman irigasi kurang lebih 80% serta mampu menghemat penggunaan air hingga 75%.

“Komponen utama dari sistem ini antara lain sprinkler (nozzle head sprinkler), penetes (nozzle drips), pipa lateral, pipa sub-utama (sub main) dan pipa utama (mainline). Sprinkler digunakan untuk menyemprotkan air dalam bentuk rintik seperti air hujan ke lahan. Selain itu penyemprot ini juga berfungsi untuk menghindari hama penyakit cabe pada saat tertentu. Sementara untuk lebih menghemat kebutuhan air tanaman, penerapan irigasi tetes (drip irrigation) sangatlah menghemat sumber daya air yang sangat terbatas. Tentu saja, pemasangan irigasi mikro tersebut didorong oleh pompa air dan sistem pemupukan sekaligus. Instalasi irigasi mikro tersebut juga dilengkapi sistem otomatis dimana pengoperasiannya bisa dikendalikan dengan teknologi terkini (dengan smart phone)”ujarnya.

Dirinya mengharapkan mahasiswa PEPI dapat mengetahui, memahami, merencanakan dari awal, melaksanaan instalasi hingga merawat perangkat teknologi Smart irrigation yang tepat, sehingga dapat menunjang pembangunan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

 379 total views

Translate »
Accessibility
Open chat
Perlu Bantuan?
Selamat Datang di website PEPI.
Ada yang bisa Kami Bantu?