Di Tasikmalaya, Mahasiswa PEPI Dampingi Petani Terapkan Teknologi Hasil Pertanian Rice Milling Unit

TASIKMALAYA – Menghadapi era industri 4.0 yang canggih dan cepat, maka dibutuhkan pendidikan yang mampu menyediakan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan di era ini. Pendidikan tersebut adalah pendidikan vokasi, termasuk Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI).

Mahasiswa PEPI melakukan Praktik Kerja Lapang di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mendampingi dan melakukan penerapan teknologi hasil pertanian menggunakan Rice Milling Unit (RMU) untuk pengolahan padi organik.

Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo, mengharapkan pendidikan vokasi mampu menjawab tantangan inovasi teknologi revolusi industri 4.0 dan society 5.0.

Selain itu, industri 4.0 dan society 5.0 diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk menumbuh kembangkan sektor pertanian.

“Sumber Daya manusia (SDM) memegang peran sangat penting dalam pembangunan pertanian. Untuk itu Kementan menargetkan 2,5 juta petani milenial untuk mengisi serta mengembangkan sektor pertanian dan adw peran pendidikan vokasi,” tegas Mentan Syahrul.

Mentan Syahrul mengatakan, sektor pertanian sangat penting. Pertanian pun tetap berproduksi sepanjang tahun 2021.

“Pertanian menjadi kekuatan negara, karena makan bagi 267 juta penduduk Indonesia tidak bisa ditunda, makan tidak bisa menunggu, karena makan merupakan kebutuhan vital yang tidak boleh putus,” ungkap Mentan Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan pendidikan vokasi diyakini mampu mencetak generasi milenial yang memiliki kemampuan, keahlian serta kredibilitas tinggi untuk bekerja di dunia usaha maupun dunia industri (DUDI) serta mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.

“Maka sudah tepat rasanya bila generasi milenial memilih untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah vokasi pertanian,” tuturnya.

Untuk tetap menjaga produktivitas petani, Gapoktan Simpatik bersama Mahasiswa Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia melakukan Praktik Kerja Lapang di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Heri Hermana, Koordinator Penyuluh, menyatakan bahwa terdapat Gapoktan Simpatik sudah menggunakan RMU sejak tahun 2012.Menurutnya, Gapoktan Simpatik lebih memprioritaskan pada padi organik, dengan varietas Sintanur untuk beras coklat dan varietas Inpari-24 untuk beras merah.

Rice Milling Unit yang berada pada gapoktan tersebut memprioritaskan kadar air berkisar antara 13-15%, dimana kadar air yang di giling lebih tinggi dari angka tersebut, maka pada proses penggilingan beras akan sulit terkelupas, selain itu beras yang dihasilkan juga tidak akan bertahan lama, karena umumnya mikroba masih akan berkembang pada beras yang tidak kering total.

“Gapoktan Simpatik yang memperhatikan kadar air, serta gabah yang mereka giling harus gabah yang benar-benar bersih sehingga kualitas yang dihasilkan akan benar-benar terjaga,” Tegas Heri Hermana.

Zuliyana Kartika, Mahasiswa Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia Program Studi Teknologi Hasil Pertanian dalam PKL I, mengatakan lebih menprioritaskan pada penerapan Teknologi Hasil Pertanian menggunakan RMU.

Kapasitas kerja dari mesin RMU tersebut sebesar 0,2 – 1 ton/jam dan hasil dari pengamatan bahwa mesin ini memiliki kapsitas kerja 1.5 – 2 ton/ jam.

“Dalam pengadaan bahan baku yang dilakukan di Gapoktan Simpatik dimana didapat gabah dari kelompok tani yang tergabung bergabung dalam Gapoktan Simpatik. Gapoktan Simpatik menyatakan bahwa gabah yang giling benar-benar padi organik dengan konsep dan prinsip SRI, sehingganya hasilnya dapat maksimal, penggunaan air juga lebih hemat,” tegas Zuliyana.

Rice Milling Unit 3 Elevator dengan type Agrindo dengan tahun penerimaan 2012 dapat meproduksi 1.5 – 2 ton/jam dengan penggerak Diesel. Pada penerapan uji kinerja mesin, mendapatkan hasil rendemen 68% dan sudah termasuk rendemen giling yang cukup besar.

Zuliyana Kartika menyatakan bahwa dalam perhitungan analisis ekonomi didapatkan bahwa usaha yang dilakukan di Gapoktan Simpatik ini layak dilakukan, karena hasil yang didapatkan untuk varietas Sintanur RC ratio sebesar 1,5 dan varietas inpari-24 sebesar 1,33 dimana nilai RC ratio diatas angka 1 sehingga dikatakan bahwa usaha ini layak untuk di jalankan.

Untuk dapat meningkatkan penggilingan padi di harapkan kepada pihak pemerintah untuk bisa menstabilkan harga beras baik dari pihak penampungan beras maupun di pasar supaya pihak pengusaha penggilingan padi tidak terjadi kerugian.

 1,081 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Perlu Bantuan?
Hallo
Ada yang bisa Kami Bantu?