DEM AREA Budidaya Tanaman Sehat Padi varitas impari 32 label ungu

Penggunaan benih bermutu merupakan kunci utama untuk mencapai keberhasilan dalam usaha budidaya tanaman pangan. Mengingat pentingnya arti benih maka diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi, memperbaiki mutu, memperbaiki distribusi, meningkatkan pengawasan peredaran dan meningkatkan penggunaan benih bermutu.
Salah satu upaya untuk menjamin ketersediaan benih Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Provinsi ciptakan DEM AREA Budidaya Tanaman Sehat Padi benih padi varitas impari 32 label ungu dengan luas area 6 hayang sudah dilaksanakan pada tanggal 04/06/2021 yang dihadiri oleh Kementerian Pertanian – Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi.
Dede Kuswandi selaku koordinator Penyuluh Pertanian membenarkan bahwa pelaksanaan penangkaran benih tersebut berawal dari proposal beliau dalam pemanfaatan lahan yang terdapat di wilayah kerja BPP Cikarang Timur. Dalam penangkaran dengan luas lahan 6 ha. Nantinya akan dilakukan pengamatan oleh 4 kelompok tani yang berlokasi di Kecamatan Cikarang Timur.

Kelompok tani tersebut akan melakukan budidaya tanaman padi benih label ungu perlu diperhatikan dengan baik bagaimana cara merawat padi tersebut mulai dari awal tanam hingga waktu panen. Merawat tanaman padi dapat dilakuakan dengan berbagai cara, seperti kebersihan lahan dari gulma, pemberian pupuk, penyemprotan agensi hayati atau pestisida, dan juga melakukan pengamatan rutin pada lahan.
“Dalam penerapan budidaya tanaman padi tersebut akan terus didampingi oleh BPP Cikarang Timur untuk menekan perkembangan serangan OPT, musuh alami berperan penting dalam mengendalikan populasi OPT. Oleh karena itu, pemanfaatan dan pelestarian musuh alami perlu dikelola secara berkelanjutan di tingkat lapangan. Salah satu pengelolaan musuh alami OPT dilakukan dengan penanaman tanaman refugia. Tanaman refugia dapat meningkatkan biodiversitas (keanekaragaman hayati) sehingga agroekosistem menjadi lebih stabil dan akan mencegah terjadinya ledakan serangan (outbreak) OPT”, ujar Dede
Monitoring dilakukan oleh petugas pusat dan daerah untuk memantau pelaksanaan kegiatan di lapangan sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan. Selain itu dilakukan pendampingan oleh petugas lapangan yaitu POPT, Penyuluh Pertanian dan Kepala UPTD/Mantri Tani. Pendampingan dilakukan mulai dari sebelum tanam sampai dengan panen.
Penyuluh Pertanian memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Hal tersebut telah dibuktikan melalui kiprahnya mengawal pembangunan pertanian bersama pelaku utama dan pelaku usaha. Dengan alasan itu, Kementerian Pertanian akan terus berusaha memaksimalkan peran penyuluh untuk meningkatkan produktivitas.
Hal senada juga disampaikan Menteri pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan Kementan akan terus melakukan pemberdayaan penyuluh, peningkatan kapasitas penyuluh dan pengalaman serta ilmu pengetahuan penyuluh. Mentan terus mendorong para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk memiliki kemampuan membaca tantangan agroklimat dalam upaya mempercepat terwujudnya ketahanan pangan nasional.
“Saya ingin kedepannya kemampuan PPL diatas rata-rata. Ini penting agar kita semua bisa menjangkau tantangan baru termasuk tantangan agroklimat yang ada. Karena itu kuasai teknologi,” kata Mentan SYL.
Disisi lain Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nuryamsi, mengatakan Kinerja penyuluh menjadi sorotan masyarakat. Keberhasilan peningkatan produktivitas tak lepas dari hasil dari kinerja penyuluh. Hal pertama yang disorot adalah penyuluh, baik itu karena keberhasilan atau kegagalan produksi petani. “Penyuluh adalah agen yang diharapkan bisa meningkatkan produktivitas petani,” tegas Dedi.
Lebih lanjut beliau mengatakan semenjak hadirnya undang-undang nomor 16 tentang SPPPK gairah penyuluhan pertanian menggeliat. Undang-undang nomor 23 tahun 2014, sistem penyuluhan mengalami permasalahan, sehingga kinerja penyuluh pun menjadi bermasalah. Hilangnya lembaga penyuluhan mulai dari tingkat produksi hingga kabupaten. Namun BPP masih tetap eksis sampai saat ini. BPP memegang peran yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas saat ini.
Ia menambahkan, bila dilihat dari kondisi penyuluhan yang ada dan tuntutan indikator kinerja penyuluh, maka sangat mendesak dilakukan upaya peningkatan kapasitas para penyuluh pertanian di Indonesia. Peningkatkan tersebut harus sinergis dengan arah kebijakan dan strategi pembangunan pertanian nasional, yang meliputi aspek teknis dan aspek menejerial yang dilakukan bersama secara terintegrasi antara pemerintah (Kementan) dan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota). (*)

 261 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Perlu Bantuan?
Hallo
Ada yang bisa Kami Bantu?