Atasi Masalah Petani, Politeknik Enjiniring Kementan Ciptakan Inovasi Prototype Pematang Sawah

SERPONG – Memasuki revolusi industri 4.0 dengan segala aktivitas yang diadopsi oleh pengguna teknologi, tentunya sektor pertanian perlu digerakkan oleh generasi milenial. Sebab, generasi milenial diyakini mampu mentransfer kemampuan terkait penggunaan dan penerapan teknologi di bidang pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengharapkan adanya peran nyata generasi milenial sebagai tumpuan pembangunan pertanian bagi kekuatan perekonomian nasional.

“Kita butuh 2,5 juta anak-anak milenial untuk menggerakkan pertanian. Sumber daya alam pertanian sudah tersedia banyak, untuk itu yang kita butuhkan sekarang adalah SDM yang lebih kuat dengan terapan science, riset dan teknologi agar lebih efektif dan berkualitas dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri,“ ujar Mentan.

Gerakan Pembangunan SDM pertanian menurut Mentan difokuskan pada investasi mendukung Kawasan Ekonomi Khusus Pendidikan Tinggi.

Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) sebagai salah satu pendidikan vokasi di bawah Kementerian Pertanian selalu berupaya menjaring generasi milenial untuk berinovasi menciptakan teknologi pertanian di masa depan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menuturkan bahwa tujuan pendirian PEPI adalah menyelenggarakan Tridharma perguruan tinggi, mengembangkan kelembagaan program studi serta menciptakan berbagai inovasi di bidang enjiniring pertanian.

“Juga meningkatkan mutu dan kompetensi sumberdaya pendidikan sesuai perkembangan IPTEK di bidang enjiniring pertanian, menjalin kemitraan dan jejaring kerja sama pendidikan nasional dan internasional, mengoptimalkan sistem manajemen administrasi Pendidikan, juga menyelenggarakan nilai kejuangan sehingga terbentuk sikap pembiasaan untuk beribadah, berakhlak mulia, berintegritas, belajar terus menerus, berkarya, bermanfaat, dan professional,” ungkap Dedi.

Salah satu inovasi karya mahasiswa PEPI adalah mesin pembuat dan pembenah pematang sawah. Mesin tersebut merupakan ide yang lahir dari permasalahan yang banyak dihadapi petani.

Perbaikan pematang sawah biasanya dilakukan bersamaan atau setelah pengolahan tanah untuk mempersiapkan penanaman. Permasalahan yang saat ini timbul adalah semakin sulitnya tenaga cangkul untuk membenahi pematang secara manual serta kurang efisiennya penggunaan cangkul di era pertanian modern saat ini.

Oleh karena itu, hadirnya inovasi mesin ini menjadi jawaban permasalahan tersebut. Yakni bisa efisien untuk menghemat biaya serta waktu dalam perbaikan pematang sawah.

Athoillah Azadi, Ketua Program Studi Teknologi Mekanisasi Pertanian (TMP) mengungkapkan prototype mesin ini merupakan salah satu inovasi yang dihadirkan PEPI dalam menjawab kebutuhan petani.

Di Indonesia sejatinya belum terdapat mesin khusus pembuat dan pembenah pematang sawah. Selama ini dalam perbaikan tersebut dilakukan secara manual atau digerakkan traktor roda empat.

“Dalam penerapannya tersebut belum efektif digunakan sebab mesin terlalu berat, perlu investasi yang mahal, serta susah di terapkan pada lahan sawah Indonesia yang relatif sempit” ujar Athoillah.

Athoillah mengungkapkan, akan terus mendorong mahasiswanya untuk berinovasi dalam bidang desain dan rekayasa alsintan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Salah satunya adalah mesin pembuat dan pembenah pematang sawah serta berbagai macam suku cadang alsintan.(*)

 109 total views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Open chat
Perlu Bantuan?
Hallo
Ada yang bisa Kami Bantu?